Mas Guru Punya Cerita: Kisah (Tidak) Sukses Saya

Mas Guru Punya Cerita: Kisah (Tidak) Sukses Saya

Kalau dari tulisan-tulisan Mas Guru Punya Cerita (MGPC) yang lalu, sepertinya kegiatan mengajar saya baik-baik saja, lancar, menyenangkan, dan terkendali. Pada kenyataannya … tidaklah demikian. Bagaimana ada kisah sukses kalau tidak ada kisah yang gagal bukan?! Berikut ini adalah daftar (sementara) kisah ‘gagal’ saya (dengan tanda kutip).

Continue reading “Mas Guru Punya Cerita: Kisah (Tidak) Sukses Saya”

Mas Guru Punya Cerita: Tatibajo Punya Laboratorium

Mas Guru Punya Cerita: Tatibajo Punya Laboratorium
Seri Konstruktivisme

Ini ceritanya lagi ngajar kelas III, yang katanya belum lancar Bahasa Indonesia. Takut ngajar kelas ini? Iya! Walau takut tetap harus kita jalani, kan kita punya misi “Berbahasa satu, bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Jadi selain ngajar pelajaran yang ada di jadwal, kami sekalian numpang ngajar Bahasa Indonesia sama bocah-bocah ini. Aku coba niru si Wiwin, pas ngajar tangannya ikut bergerak-gerak mirip bahasa Tarzan. Tujuannya biar para murid tidak terlalu hah…heh…hoh karena ga mudeng Bahasa Indonesia.

Dan sekarang aku ngajar IPA (horee….!) Bab Benda Padat, Cair, dan Gas. Gimana coba mengkonstruk definisi benda padat? Benda padat adalah….??? Ayo, siapa yang tahu definisi benda padat? Susahkan! Lagian, seumur-umur ga pernah ada soal “Manakah definisi benda padat yang benar?” :P. Jadi … mari berpetualang bersama anak-anak di laboratorium Tatibajo.

Angon Bocah

Continue reading “Mas Guru Punya Cerita: Tatibajo Punya Laboratorium”

Mas Guru Punya Cerita: Friday Night Fever

Mas Guru Punya Cerita: Friday Night Fever
Seri Ngaji Rek!

“Pak, pukul Paak?”

“Pukuul.”

“Berapa kali Paak?”

Sambajang Maghrib berapa roka’at?”

“Tiga Paaak!”

“Berarti mukulnya tiga kali.”

“tek…, tek tek tek, … tek, DUNG….DUNG….DUNG!”

Andika yang azdan. Suaranya mantab jaya! Suara gurunya? Ga usah ditanya :mrgreen: . Petromax? Siap! Santri-santrinya*? Siap! Guru-gurunya? Lho, kok cuma sendirian 🙄 ? Continue reading “Mas Guru Punya Cerita: Friday Night Fever”

Mas Guru Punya Cerita: Api yang Mengalir

Mas Guru Punya Cerita: Api yang Mengalir
Seri Konstruktivisme

Sebelum berangkat ke Majene, kami sudah membuat sketsa kira-kira alat peraga apa saja yang nanti digunakan dan bahan serta alat apa yang akan diperlukan untuk membuat peraga tersebut. Sesampainya di Tatibajo, Mas Guru mendapati bahwa karton adalah barang mewah, begitu juga dengan alat/bahan lainnya. Berada di tengah-tengah hutan dengan jalan akses yang berlumpur membuat Tatibajo terisolir dari dunia luar. Sebagai gambaran seberapa terisolirnya, anak-anak sekolah menggunakan lidi untuk membuat garis karena mistar hanya di jual di hari Sabtu – hari pasar, itupun mereka harus keluar hutan untuk mendapatkannya. Lalu, bagaimana dengan sketsa alat peraga tadi? Yang jelas, rencana harus diubah.

Mari Membaca

Kali ini aku mengajar kelas VI tentang Perpindahan Panas. Berdasarkan pelatihan, salah satu metode terbaik untuk mengajarkan bab ini adalah dengan pengamatan langsung. Guru membawa seperangkat alat yang terdiri dari lilin, tabung kaca, besi penyangga, air, dan batang besi untuk melakukan peragaan perpindahan panas. Tentu di Tatibajo alat-alat macam itu tidak ada. Lalu bagaimana mengajarkan materi ini?

Seperangkat alat peraga di atas Continue reading “Mas Guru Punya Cerita: Api yang Mengalir”

Mas Guru Punya Cerita: Ngaji Rek!

Mas Guru Punya Cerita: Ngaji Rek!

“Dzaalikal kitaabu laa roybafiih, hudal lil muttaqiiiin.”

Ba’da maghrib kala itu ramai oleh gemuruh suara bocah. Masjid Al Muhajirin Tatibajo yang biasanya sepi kini dipenuhi anak-anak yang ingin belajar mengaji. Sebagian lancar membaca Quran, sebagian lagi ramai berebut 1 buku Iqro’, yang lain asik bermain silat-silatan. Malam itu, TPQ (Taman  Pengajian Quran) Tatibajo dimulai.

Continue reading “Mas Guru Punya Cerita: Ngaji Rek!”

Mas Guru Punya Cerita: Beranak dan Melahirkan

Mas Guru Punya Cerita: Beranak dan Melahirkan
Seri Konstruktivisme

Lagi-lagi, aku mengajar kelas gabungan. Kali ini The Little Monsters yang beruntung itu 😎 adalah kelas 3 dan 4. Kata para guru, ‘batas aman’ berbahasa Indonesia adalah kelas 4. Lalu, bagaimana aku akan mengajar kelas 3? Haha, biarlah. Hitung-hitung kan aku juga punya misi untuk menyebarkan virus ‘Lancar Berbahasa Indonesia’ di Tatibajo :D.

Saat masuk, kulihat sudah ada tabel perbedaan makhluk hidup dan benda mati. Tabel itu masih baru, belum terisi sama sekali. Sepertinya kemarin tabelnya belum sempat digunakan. Pas sekali, pakai saja! Aku memang kesulitan membuat RPP. Hingga kini, aku belum tahu akan mengajar kelas berapa saja besok. Maklum, tidak ada yang tahu siapa (guru) yang tidak datang esok hari.

Seingatku ada beberapa kolom di tabel itu: ‘Nama’, ‘Tumbuh’, ‘Berkembang Biak’, ‘Bergerak’, ‘Menanggapi Rangsang’, ‘Bernafas’, ‘Menghasilkan Makanan Sendiri’, ‘Makhluk Hidup’, dan ‘Benda Mati’. Mari kita mulai proses belajar dengan metode konstruktivisme :cool:. Dalam metode konstruktivisme – versi saya :p – peran guru adalah Continue reading “Mas Guru Punya Cerita: Beranak dan Melahirkan”

Mas Guru Punya Cerita: Keracunan Keong Racun

Mas Guru Punya Cerita: Keracunan Keong Racun

Walau kampungnya kecil, aku sulit memetakan orang-orang Tatibajo. Aku belum bisa menghafal sepenuhnya si Aidin anaknya siapa – rumahnya di mana, Bapak ini namanya siapa – yang mana anaknya, rumahnya di mana. Warga Tatibajo umumnya masih keluarga dekat, jadi wajahnya pun mirip-mirip. Di tambah lagi kurangnya penerangan saat malam membuat aku makin susah mengingat dengan siapa aku mengobrol tadi malam. Pernah suatu kali aku bertanya pada dua orang muridku apakah mereka berdua bersaudara. Ternyata mereka bukan adik-kakak tapi sepupu, padahal wajahnya sangat mirip. Saat aku melihat ayah mereka masing-masing, hmm… pantes dua muridku itu mirip. Lha wong bapaknya juga mirip :D.

Asik-asiknya ngobrol dengan beberapa warga di ruang tamu, kudengar sayup suara anak-anak perempuan bernyanyi. Aku keluar rumah. Kuintip mereka dari balik pintu. Continue reading “Mas Guru Punya Cerita: Keracunan Keong Racun”

Mas Guru Punya Cerita: The Little Monsters

Mas Guru Punya Cerita: The Little Monsters

SDN No. 27 Inpres Tatibajo bukanlah sekolah yang sempurna. Dibandingkan dengan SD-ku 11 tahun lalu, sekolah ini pun masih tertinggal. Bangunan kelas dikelilingi dinding kayu bercat putih di bawah naungan atap seng yang memancing keringat. Biasanya, siswa yang hadir di sekolah tidak sampai belasan untuk setiap kelasnya. Bila ditambah dengan kurangnya guru yang berhasil hadir di sekolah, maka wajar siswa kelas 5 belajar seruangan dengan siswa kelas 6, begitu juga dengan siswa-siswa kelas lainnya. Gurunya pun menyampaikan materi pelajaran yang terpaksa disesuaikan agar kedua kelompok siswa yang digabung tetap bisa mengikuti pelajaran.

Hari pertama memegang kelas, aku langsung mengajar gabungan kelas  5 dan 6. Berdasarkan pengalaman pelatihan mengajar di salah satu MI di Ciawi, aku membuat dugaan awal bahwa siswa kelas 5 masih kesulitan mengerjakan soal perkalian. Karena itu, kali ini aku berencana mengajar perkalian. Pertama, kan kuajarkan dasar perkalian. Perkalian dibagi menjadi 6 bagian: perkalian dengan angka 1, 10, 100, dst; perkalian angka 2, 3, dan 4; perkalian angka 5; perkalian angka 11; perkalian angka 9; dan perkalian angka 6, 7, 8, dan 9.

Perkalian Itu Susah

“Perkalian itu susah!”, begitu aku membuka pelajaran. Continue reading “Mas Guru Punya Cerita: The Little Monsters”