This is Nothing. But It’s not That Kind of ‘This’

9

Mas Guru Punya Cerita: This is Nothing. But It’s not That Kind of ‘This’

I’ve faced the worst. This is nothing”. Itulah kalimat yang bisa diucapkan alumni PM nanti, kalau dia dihadapkan pada masalah tantangan besar dalam hidupnya, katanya Anies Baswedan (katanya-katanya :D, by Trio Kwek Kwek). Ya, tulisan ini akan menceritakan pengalaman tentang keampuhan kalimat sakti itu. I had faced the worst. This was nothing, tapi … bukan that kind of ‘this’. Continue reading

Mas Guru Punya Cerita: Revolusi Malam

13

Mas Guru Punya Cerita: Revolusi Malam

Hampir semua lobi-lobi dilakukan pada malam hari. Operasi pun direncanakan akan dilaksanakan di gelapnya malam. Karena itu kami menamakan gerakan kami Revolusi Malam.

I. Agitasi
Fase pertama. Fase penyusupan ide. Butuh lebih 1 bulan untuk PDKT kepada masyarakat. Akhirnya, suatu siang di bulan Desember 2010 setelah sholat Jumat, obrolan malam sebelumnya membuahkan hasil nyata. Pak Mantan

Continue reading

Mas Guru Punya Cerita: Bakat Tersembunyi

10

Mas Guru Punya Cerita: Bakat Tersembunyi

Aku tidak punya tanggung jawab mengajar kelas tertentu. Kekurangan tenaga pengajar membuat aku menjadi guru untuk semua kelas – begitu juga dengan guru lainnya di Tatibajo. Jadi kalau hari ini bosan dengan konstruktivisme serius ala kelas VI, aku bisa ambil kelas I/II, kelas bermain. Tunggu saja sekitar 5 menit setelah mereka berdoa maka kelasku pun akan berlanjut menjadi ajang permainan yang menyenangkan, at least I think so. Karena tidak ada guru yang tetap mengajar di kelas tertentu, lumrah jika saat bel dipukul anak-anak akan bertanya ngajar kelas berapakah aku hari ini. Biasanya anak-anak berebut agar aku mengajar di kelas mereka. As a person who likes to be the center of attention (in good term), I like the situation.

Suatu hari, di mana guru-guru lain datang terlambat, aku memulai sekolah sendirian. Kelas I/II dapat jatah ajar pertama. Ketika aku mengambar sisir dan menulis ‘S_ S _R’ di bawahnya, dua orang guru datang berboncengan, Pak Kepala Sekolah dan Ibu Guru Agama. Beberapa menit kemudian dua orang siswa-siswi kelas IV datang meminjam penghapus di kelasku dan bilang kalau Ibu Guru Agama mau mengajar kelas I/II, jadinya kelas mereka kosong. Mereka memintaku untuk mengisinya. Nanggung pikirku. Udah bikin 4 gambar peralatan rumah tangga – setidaknya niatnya begitu– masa harus pindah ke kelas lain. Ngobrol dulu ah sama Ibu Guru. Dia pasti mau mengerti dan mengisi kelas III/IV, “Bu, mau ngajar kelas berapa?”.

“Kelas III/IV digabung ya? Saya ngajar di situ saja. Kan Pak Agung sudah di kelas I. Biar Bapak (Kepala Sekolah) yang isi kelas VI.”, kata Ibu Guru. Continue reading