Nggedabrus di TEDx Makassar 2011

18

Tahu TEDx kan? Nah, kali ini tentang TEDx Makassar. Tahun ini panitianya mengundang Pengajar Muda (PM) dari Indonesia Mengajar untuk jadi salah satu pembicara. Temanya Inspiring Youth. Singkat kisah, berangkatlah Firman dan saya sebagai perwakilan (digaris bawah, huruf tebal pula) Pengajar Muda untuk sedikit bercerita.

Acaranya

Pembicaranya ajib-ajib. Continue reading

Mas Guru Punya Cerita: Harta Karun di Sekolah

9

Mas Guru Punya Cerita: Harta Karun di Sekolah (mirip judul episode Doraemon :mrgreen: )
Seri Konstruktivisme


Saat tim Majene B menjalani praktik mengajar di sebuah madrasah ibtidaiyah (setingkat SD) di Ciawi, kami sering membuat alat peraga untuk mengajar. Saya sendiri pernah membuat peta dunia selebar papan tulis bermodalkan gambar .JPG (digital) peta dunia, Ms. Excel, printer, lem, dan beberapa lembar kertas A3. Diskusi dengan para trainer makin meyakinkan kami, para pengajar muda, bahwa guru juga harus terampil membuat alat peraga. Tetapi – pada suatu hari di SDN Tatibajo – keyakinan itu segera runtuh Continue reading

Mas Guru Punya Cerita: Revolusi Malam

13

Mas Guru Punya Cerita: Revolusi Malam

Hampir semua lobi-lobi dilakukan pada malam hari. Operasi pun direncanakan akan dilaksanakan di gelapnya malam. Karena itu kami menamakan gerakan kami Revolusi Malam.

I. Agitasi
Fase pertama. Fase penyusupan ide. Butuh lebih 1 bulan untuk PDKT kepada masyarakat. Akhirnya, suatu siang di bulan Desember 2010 setelah sholat Jumat, obrolan malam sebelumnya membuahkan hasil nyata. Pak Mantan

Continue reading

Mas Guru Punya Cerita: If (guru == NULL)

11

If (guru == NULL)
{
/*AWAS …. Bandwidth Killer & Panjang*/

Kenapa MGPC jarang diupdate lagi? Karena sejak semester 2 Mas Guru resmi jadi guru kelas VI. Alih-alih ngajar dengan gaya (yang diklaim) konstruktivisme, Mas Guru lebih sering harus ‘bayar hutang’ dan ngejar materi yang tertinggal biar murid kelas VI tambah puinter-puinter. Amin. Tapi, bukan itu yang mau diceritakan hari ini.

Tahu global warming kan? Apa dampak global warming bagi sekolahku? Jawabannya adalah sekolahku sepi guru. Nah, ada puisi tentang ini, judulnya DAMPAK SISTEMIK GLOBAL WARMING BAGI SDN NO. 27 TATIBAJO :mrgreen: .

Baru kemarin bulan Maret
Siang hari panas banget

Tapi subuh hujan deras
Bikin sungai kelewat batas

Banjirpun ga kalah hebat
Bikin murid ga bisa lewat

Setapak hutan ikutan becek
Apalagi enggak ada ojek

Ditambah pula lumpur sedengkul
Bikin guru tidak go to school

Murid sedih datang mengadu
Sekolah sepi tiada guru

Teng…teng…teng, bel dipukul
Anak selapangan datang berkumpul

“Kelas 1 gabung kelas 2. Kelas 3 dengan kelas 4. Kelas 5 tetap. Kelas 6 tetap. Disiapkan, lalu berdoa.”

“IYAA…PAAAK!”
Sambut bebocah serempak

Begitulah seminggu ini
Dan puisiku cukup di sini

Gimana? Keren kan? Kalau jelek mohon dimaafkan. Maklum, pujangga karbitan. Hehe…. . Ini kisah selengkapnya. Continue reading

Uncategorized

Mas Guru Punya Cerita: Bakat Tersembunyi

10

Mas Guru Punya Cerita: Bakat Tersembunyi

Aku tidak punya tanggung jawab mengajar kelas tertentu. Kekurangan tenaga pengajar membuat aku menjadi guru untuk semua kelas – begitu juga dengan guru lainnya di Tatibajo. Jadi kalau hari ini bosan dengan konstruktivisme serius ala kelas VI, aku bisa ambil kelas I/II, kelas bermain. Tunggu saja sekitar 5 menit setelah mereka berdoa maka kelasku pun akan berlanjut menjadi ajang permainan yang menyenangkan, at least I think so. Karena tidak ada guru yang tetap mengajar di kelas tertentu, lumrah jika saat bel dipukul anak-anak akan bertanya ngajar kelas berapakah aku hari ini. Biasanya anak-anak berebut agar aku mengajar di kelas mereka. As a person who likes to be the center of attention (in good term), I like the situation.

Suatu hari, di mana guru-guru lain datang terlambat, aku memulai sekolah sendirian. Kelas I/II dapat jatah ajar pertama. Ketika aku mengambar sisir dan menulis ‘S_ S _R’ di bawahnya, dua orang guru datang berboncengan, Pak Kepala Sekolah dan Ibu Guru Agama. Beberapa menit kemudian dua orang siswa-siswi kelas IV datang meminjam penghapus di kelasku dan bilang kalau Ibu Guru Agama mau mengajar kelas I/II, jadinya kelas mereka kosong. Mereka memintaku untuk mengisinya. Nanggung pikirku. Udah bikin 4 gambar peralatan rumah tangga – setidaknya niatnya begitu– masa harus pindah ke kelas lain. Ngobrol dulu ah sama Ibu Guru. Dia pasti mau mengerti dan mengisi kelas III/IV, “Bu, mau ngajar kelas berapa?”.

“Kelas III/IV digabung ya? Saya ngajar di situ saja. Kan Pak Agung sudah di kelas I. Biar Bapak (Kepala Sekolah) yang isi kelas VI.”, kata Ibu Guru. Continue reading