Bukan Sastrawan, cuma penggemar Fisika

9

Dalam senyapnya malam
Detik jam dinding semakin kencang
Seperti layaknya sebuah pelita
Yang hanya ada 1 di setiap rumah

Bila pagi tiba
Nyala pelita tak lagi jadi penting
Padahal bila senja datang
Hanya bulan yang mampu kalahkan sinarnya

Bertahun lalu, nenek sempatkan cerita
Betapa cantiknya purnama
Padang Bulan, katanya

Tapi itu hanya cerita
Seumur hidupnya, nenek tak pernah berhasil
membuktikan indahnya Padang Bulan padaku
Di Kota Surabaya
Purnama dan sabit hanya dibedakan oleh bentuk

Tapi kini aku tahu
Di tengah kuatnya dorongan di pintu air
Dan gemericik yang menerjang kaki
Terkadang dengan lolongan monyet
Dengkuran babi hutan
Dan gonggongan anjing di malam hari yang sedang berebut wilayah
Tuhan menunjukkan
Bulan Purnama memang benar indahnya

Sinarnya membantuku bebas melompat dari batu ke batu
Mencari tempat beradu
Untuk segera melepas beban
Tanpa takut terjatuh

Malam itu aku bisa ke sungai tanpa senter


#Bukan sastrawan, cuma penggemar Fisika yang lagi ngomongin polusi cahaya
#JUDUL: Tatibajo, Kebelet di Malam Hari

Saya Ini Sedang Futur

22

Saya ini sedang futur……*

Saya ini sedang futur……

Terbukti dengan ogah-ogahan saya datang ke
pengajian tiap pekan

Dengan alasan klasik : kuliahlah, lelahlah,
kerjalah, sibuklah,inilah, itulah

Saya ini sedang futur

Saya ini sedang futur…….

Lihat penampilan saya yang banyak berubah

Tak lagi pandai menjaga pandangan sering cari sasaran

Saya ini sedang futur….

Jarang baca buku tentang Islam, lagi demen baca koran

Dulu, tilawah nggak pernah ketinggalan.

Sekarang,satu lembar udah lumayan
Continue reading

Mozaik – mozaik Kosmik

12

Copy Paste dari Asti Latifa– dengan seizin penulis puisi.

Mozaik – mozaik Kosmik

 

*Asti Latifa Sofi*

 

 

 

Adanya bermula dari sebuah titik

Berpaut runut menjadi garis

Mewujudlah ia sebongkah mozaik

Bersenyawa dalam keterikatan kosmik

Buah cinta dari Penguasa semesta

 

Adanya bermula dari segumpal darah

Melalui sketsa kuasa-Nya

Terpahat jiwa nan sempurna

Ditiupkan ruh padanya

Untuk menoreh catatan sejarah sebagai khalifah

 

Titik dan darah menjadi saksi bagi semesta

Bukti keagungan melalui seni bercita rasa

Ditoreh dan disulam dengan cinta

Kita  pun menjadi lukisan semesta…

 

Maka jangan tanyakan mengapa kita hanyalah sebuah titik dan segumpal darah

Karena Ia berkehendak agar kita senantiasa kecil

Agar dalam ketinggian akan pencapaian, kita tetap merendah

Pun agar dalam kelemahan kita menguap dari gelisah

Bagai titik-titik embun

Yang menguap di jendela kaca

 

Maka, jangan tanyakan pula mengapa kita berbeda

Karena Sang Pelukis tengah mencipta keindahan

Pada eksotisitas yang telah lama Ia rancang

 

Kita hanyalah sebuah titik dan segumpal darah…

Yang tak kuasa kala cahaya menghilang

Maka mewujudlah segala perbedaan dalam sinar terang

Agar sketsa alam kian mewujud

Karena demikianlah yang dikehendaki alam Surgawi

Bahwa semua telah dipasangkan…

 

Kita adalah mozaik-mozaik kosmik

Melalui perbedaan, kita tengah melukis alam

Bersama menjadi satu dalam sebuah bingkai waktu

Membentuk lambang cinta bagi Sang Maestro

Melalui peran sebagai sepasang khalifah…

 

Maka kini, aku hanya bisa menanti

Pada setiap warna yang datang

Untuk kucocokkan agar serasi

Atau terbias sehingga tercipta harmoni lain yang lebih indah

Hingga saatnya kita menjadi mozaik kosmik nan utuh

Penuh gairah menebar amanah cinta untuk dunia…

 

 

Kamar penyuplai cinta untuk dunia,

15 Maret 2008, pukul 00.00 WIB

 

 

”Pernikahan adalah sebuah perjalanan tanpa henti,  tentang saling memberi dan berbagi, saling menghormati, dan saling menguatkan…” (Aulia Dana)

Puisi ini ditulis di oleh Asti Latifa Sofi, Mahasiswa Prodi Sastra Arab’05 Fak. Ilmu Budaya UI.