Gerbong Wanita? Semoga Cewek Banget

Hari ini PT KA resmi mengoperasikan gerbong khusus wanita untuk rute KRL Jakarta-Bogor. Gerbong yang diletakkan saling berjauhan ini (masing-masing di ujung depan dan belakang) didandani penuh dengan warna ping. Mungkin maksudnya agar terlihat lebih feminin.

Menurut hukum positif Indonesia, haram hukumnya bagi laki-laki untuk menginjakkan kaki di gerbong ini (mungkin Pak Kondektur dapet kompensasi kali ya). Suami pun tak diijinkan menemani istrinya di gerbong ini. Bila mau naik kereta berdua, ya silakan pakai gerbong umum. MANTAB JAYA!!!

——fles bek 5 tahun yang lalu——

Dua orang pemuda (hampir) gelandangan naik KRL Jakarta-Depok untuk nyari koskosan di daerah Salemba. Seumur-umur belum pernah naik kereta dalam kota, kaget juga 2 pemuda ini dengan kesempatan yang ditawarkan si ular besi di pagi hari. MBATI…! Ya, kesempatan, atau lebih tepatnya terpaksa mbati. Nyaho, mbati teh naon? Oke, saya jelaskan sebentar. Continue reading “Gerbong Wanita? Semoga Cewek Banget”

Jangan Bunuh Penderita HIV/AIDS

Penderita HIV/AIDS masih menyandang stigma negatif hingga kini. Tak hanya datang dari masyarakat umum, stigma buruk itu juga bisa datang dari tenaga medis profesional (Koran Kompas, 02/12/09).

Apakah HIV hanya bisa ditularkan lewat hubungan seks dan jarum suntik? Ternyata, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia ini juga bisa ditularkan lewat pisau cukur salon Continue reading “Jangan Bunuh Penderita HIV/AIDS”

American Style: Pernyataan Presiden pasca-Bom Kuningan II Menggiring Opini Publik

SBY - konferensi pers pasca bom mega kuningan II

“The day soldiers stop bringing you their problems is the day you have stopped leading them.”

Colin Powell.*

Sesaat setelah Mega Kuningan dibom, Presiden SBY menggelar jumpa pers. Tak ada yang aneh dengan jumpa pers pasca bencana. Tapi Continue reading “American Style: Pernyataan Presiden pasca-Bom Kuningan II Menggiring Opini Publik”

Belajar dari Ibrahim Bapaknya Ponari

Catatan Puenting: Ada fakta yang salah dalam tulisan di bawah ini. Pelurusan berita bisa dibaca di sini.

Bismillahirrohmanirrohim

Mari to the point saja. Asumsi saya, kalian sudah baca berita tentang fenomena Batu Ajaib Ponari. Oke, apa yang kita bisa pelajari dari kasus Dukun Cilik Ponari?

  1. Masyarakat terjebak pada pragmatisme berpikir. Inginnya serba instan meski tidak masuk akal.
  2. Pemahaman ilmu yang rendah. Baik ilmu kedokteran maupun ilmu akidah.
  3. Kekuatan media yang powerfull. Semakin gencar media memberitakan suatu kejadian, semakin ramai orang mengomentari. Semuanya masih ingat kan ketika Aa’ Gym memilih untuk berpoligami?! Sampai-sampai presiden pun mau turun tangan. Hadooh…!
  4. Budaya meniru yang build in dalam masyarakat, walaupun meniru hal yang negatif. Sejak Ponari masyur, sudah ada beberapa “dukun” yang mengaku punya kekuatan yang sama. Bahkan ada yang mengaku batunya adalah pasangan dari batu Ponari.
  5. Apa lagi coba???

Tapi kali ini saya ingin memandang dari sudut pandang lain. Jadi, salah satu hal yang bisa kita pelajari dari kasus Ponari adalah Bagaimana Bapaknya Ponari peluang sehingga mampu memasarkan “produk” anaknya dengan target pasar orang-orang Indonesia.

Saya yakin, Bapaknya Ponari (namanya Pak Kamsin) tau bahwa penduduk Indonesia masih banyak yang percaya klenik, masih banyak yang pragmatis, sukanya yang instan-instan. Di saat kita baru menyadari hikmah setelah fenomena terjadi, Pak Kamsin sudah mempelajari hikmah itu justru untuk membuat fenomena terjadi. Beliau seorang marketer yang handal bukan??

Bicara tentang marketing, prinsip utama marketing adalah membuat pelanggan membeli barang kita, entah karena butuh, ingin, atau terpaksa. Dan hebatnya, Pak Kasmin atau Abu Ponari ini mengerti ilmunya bagaimana membuat masyarakat merasa butuh batu ajaib itu.

Simpulannya, kalau kamu ingin barang daganganmu laku, salah satu caranya adalah tiru caranya Abu Ponari: 1. pahami karakter masyarakat, 2. sediakan apa yang mereka inginkan, 3. buat iklan yang cocok dengan karakter target pasar (seperti, “batu ini sakti lho..!!!”), 4. gunakan media masa sebagai alat iklan gratisan.

Saya jadi tersadar bahwa setiap Rosul itu diutus dengan menggunakan bahasa kaumnya.

Bagaimana? Adakah yang salah dari tulisan saya?

Belajar! Ga Pake Nunggu!

Bismillahirrohaminirrohim…

persamaan-energi“Kalau nunggu ngerti gunanya belajar Fisika, ya kamu akan terlambat belajar Fisika.”, kata Prof. Benyamin Kusumoputro, Drs., M.Eng., Dr.Eng diikuti oleh cengiran tawa teman-teman sekelas.

Asik juga belajar Neural Network alias Jaringan Syarat Tiruan. Tapi justru bukan itu yang paling membuat saya tertarik (saya tetap sangat tertarik dengan bidang ini). Humor-humor sindiran yang diucapkan Pak Ben (begitulah kami biasa memanggil sang Profesor) adalah yang terbaik.

Kalimat di atas, kalau dalam bahasa kita mungkin akan berbunyi, “If I wait for you until you get your purpose in learning, it will be forever.”

Ya…, kalau kita menunggu mengerti apa guna hal-hal yang harus kita pelajari maka kita akan ketinggalan jauh. Bukankah ilmu Allah itu luas, sampai air 7 samudra saja kalau dijadikan tinta tak cukup untuk menuliskannya (akhirnya dapat juga).

Jadi, kata terlambat belajar memang ada, tapi tak usah dipakai. Kata menyerah, dalam kamus hidup kita memang ada, tapi tak perlu digunakan. What do you think?