Menculik Maria

https://i0.wp.com/www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/8578589/2/istockphoto_8578589-blue-film-reel.jpg
Real Blue Film

Untuk mengurangi promosi film maka saya tidak gunakan judul aslinya. Oh iya, karena Maria juga adalah nama salah satu wanita yang paling saya hormati, saya akan menggunakan nama Mari’o (baca: mario) sebagai gantinya. Continue reading “Menculik Maria”

Tips Mudik Lebaran Aman dan Praktis

http://lautze.files.wordpress.com/2008/09/mudik.gifBismillah, lama tak jumpa dan sekarang mari berbagi tentang tips mudik lebaran yang aman dan praktis ala Chef Agung 😎 . Tips ini terdiri dari 3 bagian: 1. Untuk kereta dan bis jarak jauh (harus pesan tiket), 2.  Bis jarak dekat (tanpa pesan tiket), 3. Untuk kedua jenis sebelumnya. Meskipun judulnya “mudik“, tips ini juga bisa digunakan saat arus balik.

Continue reading “Tips Mudik Lebaran Aman dan Praktis”

What about Pantun?

Assalamualaikum wr wb

Burung malam terbangnya rendah, burung elang terbangnya tinggi.
Kalau salam dijawab kurang meriah, perlu diulang sekali lagi.

Assalamualaikum wa rohmatullahi wabarokaatuh!

“Bintang seawan-awan, aye itungin beribu satu. Berape banyak Abang punya jagoan, aye adepin atu-persatu.”, potongan adegan Palang Pintu Betawi.

“Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah soro.”, Cak Durasim*.

“Luruih lah jalan Payakumbuah, lanjutannya?

Rek Ayo Rek, Melaku-melaku nang Tunjungan

Assalamualaikum wr wb

Pernah dengar? Itu potongan lirik lagu “Melaku-melaku nang Tunjungan”. Tunjungan memang pusat cuci mata sejak dulu. Pertokoan dengan fitur-fitur Belanda masih banyak yang nempel di kanan kiri jalan. Ada yang tahu hotel Majapahit? Tempat bersejarah perobekan bendera Merah-Putih-Biru menjadi Merah-Putih. Hotel itu ada di Tunjungan.

Tunjungan sebenarnya adalah nama jalan. Pada masa modern, Tunjungan tetap bertahan sebagai area cuci mata. Simak saja petikan lirik lagu “Mlaku-mlaku nang Tunjungan” yang lain.

“Ngalor ngidul, wetan ngulon ngumba moto (Ngalor ngidul, wetan ngulon cuci mata)”

Kala berkunjung ke Surabaya, Kakek saya yang dari Bapak gemar sekali jalan-jalan di Tokonam. Salah satu tempat perbelanjaan paling modern kala itu. Sayang sekarang sudah bangkrut. Tak lagi ada toko yang jadi kenangan saat-saat JJS (jalan-jalan santai) dengan kakek.

Tak kalah tuanya dengan Tokonam, Tunjungan Plaza berdiri dan mampu bertahan hingga sekarang. Bahkan TP menjadi mal terbesar di Jawa Timur. Sambil geleng-geleng kepala, Kakek sering memandangi bagunan itu. Mungkin, saat itu bangunan setingi ini tak ada di Malang.

Kala yang lain Kakek pernah bilang, “Suroboyo ambune apek”. Surabaya baunya tidak enak. Apalagi saat Kakek nganter saya ke sekolah. Sepanjang jalan maka sepanjang itulah kali comberan mengikuti. Dan sekali lagi, “Suroboyo ambune apek”. Lebih enak tinggal di Malang kata beliau. Saya sih cuek saja. Bahkan tidak merasa apek sama sekali. Mungkin sudah kebal kali ya? Dan saat pulang terakhir kemarin (sejak sekian lama tak pulang) saya tiba-tiba menjadi sependapat dengan Kakek. Suroboyo ambune apek.

Bau apek jadi aroma terapi sehari-hari lorong-lorong kota besar. Ke-apek-an ini juga saya temui di Jakarta. Di perkampungan padat penduduk, di terminal, di pinggir kali, di kereta, bahkan di tengah jalan. Apa setiap nasib kota besar akan seperti ini? Apek, penuh debu, asap di mana-mana? Atau cuma terjadi pada kota besar Indonesia? Saya tidak tahu, maklum belum pernah ke luar negeri.

Mungkin, saat ini, lirik lagu “Melaku-melaku nang Tunjungan” sudah tidak cocok lagi. Mau cuci mata di mana kalau udara saja bikin mata merah.

Rek ayo rek mlaku-mlaku nang Tunjungan
Rek ayo rek rame-rame bebarengan
Cak ayo cak sopo gelem melu aku
Cak ayo cak golek kenalan cah ayu

Ngalor ngidul, ngetan ngulon ngumbah moto
Masiyo mung nyenggal nyenggol ati lego (alhamdulillah dah inget. Thx to wawan: lihat komentar)
Sopo ngerti nasib awak lagi mujur
Kenal anake sing dodol rujak Cingur”

Translet Bhs Ind. :
“Rek ayo rek jalan-jalan ke Tunjungan
Rek ayo rek rame-rame bersama-sama
Mas ayo mas siapa mau ikut saya
Mas ayo mas cari kenalan cah ayu

Ngalor ngidul, ngetan ngulon cuci mata
Meski hanya nyenggal nyenggol hati lega
Siapa tahu nasib kita lagi mujur
Kenal anaknya yang jual rujak Cingur”

Palang Pintu FUKI : Adegannye!

Palang Pintu FUKI : adegan

Rombongan Al Faruki<“calon” Ketua FUKI> nyang dinahkodai ame Ridho, si jagoan kampung, dah sampe di depan halaman Al Habib (Al Anjaru). Mereka dihadang ame Palang Pintu Ketua FUKI “lama” nyang ade di bawah komando Chandra, mantan preman pasar yang dah tobat nashuha, insya Allah.

Belum tau cerite sebelumnya?? Baca di sini.

==============================================

Aktor :

pihak Ketua Lama (L) :

1. Jubir (Chandra) yang adu pantun, petentang-petenteng.

2. Ketua Lama (Anjar), “sok” bersahaja.

3. Pesilat (Ringo), pendekar kampung sebrang, songong, sok jago, pecicilan.

pihak “calon” Ketua Baru (B) :

1. Jubir (Ridho) yang adu pantun, petentang-petenteng.

2. “Calon” Ketua Baru (Faruk),” sok” cool,” sok” ganteng.

3. Pesilat (Indra). Calon Camatzz sejuta umat, sotoi, sok jago, cengengesan.

4. Qori’ (Aulia) yang tilawah, juara MTQ tingkat RT. Katanye bakal maju ke tingkat RW.

Sutradara : Agung

Asisten Sutradara : Yans

Naskah (diedit oleh Agung) : jodhi yudono di silatindonesia@yahoogroups.com

==============================================

Mau nonton pertunjukannye?? Liat di sini.

Mikul Dhuwur Mendem Jero – Sebuah Peribahasa Kekayaan Bangsa*

//www.geocities.com/alongfais2005/blog/aku_pejuang.gif” cannot be displayed, because it contains errors.

2 Mei, hari lahirnya Ki Hajar Dewantoro, diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Kali ini, saya ingin berbagi mengenai budaya kita. Suatu warisan nilai-nilai yang seharusnya kita didikkan pada diri kita dan pada generasi penerus kita. Sekali lagi, saya ingin mengupas peribahasa. Salah satu peribahasa yang menjadi bagian dari 14 prinsip filosofi jawa.

Mikul dhuwur, mendem jero!…more

Palang Pintu ala Betawi

Assalamualaikum wr. wb.

Ingat taekwondo, jadi ingat silat. Jadi rindu.
Jadi ingat juga ritual kawinan di sinetron-sinetron dengan latar budaya betawi. Sering banget ada adu pantun antara pihak lelaki vs wanita. Lalu adu silat. Penasaran. Terus, nyarilah ke google dan dapatlah artikel ini.

————————————————————-

Palang Pintu

Adu silat adalah salah satu adegan yang selalu muncul pada kesenian Palang Pintu.

Perkawinan, adalah salah satu perjalanan manusia yang dianggap sakral oleh masyarakat Betawi. Saking sakralnya, maka ada beberapa prosesi yang harus dilalui kedua mempelai
menjelang pernikahannya. Salah satunya adalah Palang Pintu.

Upacara pernikahan diawali dengan arak-arakkan calon pengantin pria menuju ke rumah calon istrinya. Dalam arak-arakan itu, selain iringan rebana ketimpring juga diikuti barisan sejumlah kerabat yang membawa sejumlah seserahan mulai dari roti buaya yang melambangkan kesetiaan abadi, sayur-mayur, uang, jajanan khas Betawi, dan pakaian.

Selain itu, perlengkapan kamar pengantin yang berat seperti tempat tidur serta lemari juga dibawa dalam prosesi arak-arakkan. Tradisi Palang Pintu ini merupakan pelengkap saat pengantin pria yang disebut “tuan raja mude” hendak memasuki rumah pengantin wanita atawa “tuan putri”. Nah, saat hendak masuk kediaman pengantin putri itulah, pihak pengantin wanita akan menghadang.

Awalnya, terjadi dialog yang sopan. Masing-masing saling bertukar salam, masing-masing saling mendoakan. Sampai akhirnya pelan-pelan situasi memanas lantaran pihak pengantin perempun ingin menguji kesaktian dan juga kepandaian pihak pengantin laki-laki dalam berilmu silat dan mengaji.

Baku hantam pun terjadi bakbukbakbuk…….

Peribahasa “Sebuah” Kekayaan Bangsa

Saat wacana “pornografi” mencuat, saya justru memilih untuk membahas budaya. Sudah cukup banyak saudara-saudaraku (Chandra, Kamal, Charles, dll) yang menguliti wacana ini.

Nusantara1

Nusantara begitu kaya akan peribahasa. Dan lebih kaya lagi karena tiap-tiap budaya daerah memiliki peribahasa sendiri-sendiri. Mantabz…! Apalagi telah dikenal sepanjang zaman bahwa rumpun bangsa di nusantara adalah masyarakat dengan budaya lisan yang kuat (bukankah kita lebih suka berdiskusi dari pada membaca??).

Saya hanya tulis beberapa (peribahasa) dari beberapa (budaya). Jawa, Sunda, Minang, Ambon, Aceh, Melayu, Tionghoa, Makasar, Madura. Itu saya dapat dari teman atau baca artikel orang.

Orang Sunda bilang “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok” – air yang menetesi batu, lama-lama membentuk cekungan/lubang. Kalau ditafsirkan menjadi sesuatu yang sulit bila dilakukan terus menerus akhirnya berhasil juga. “Agul ku payung butut”: bangga dengan keburukan sendiri.

Pernah dengar peribahasa :mrgreen: “witing trisno jalaran soko kulino” (tau lah… ). “Alon-alon angger kelakon”, cukup jelas… 😀 ? “Adigang, adigung, adiguna” : orang yang menggunakan keunggulannya–kekutan, pangkat, keindahan fisik, kekayaan untuk menyelesaikan masalah. ”Dhemit ora ndulit, setan ora doyan” : perbuatan yang sangat buruk sehingga demit dan setan pun tak mau melakukan 😀 .

Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake” : orang yang luar biasa berharga. Dirinya lebih berharga dari harta, lebih bermanfaat dari pada ilmu apapun, berani bertarung meski sendiri karena membela kebenaran, dan kalau menang maka menang tanpa merendahkan martabat lawan. Sebenarnya dua yg pertama itu pepatah sih 😀 . Itu kata orang Jawa.

Orang Minang punya prinsip “alam takambang jadi guru”: pribahasa utama orang Minangkabau . Artinya …