Sukses Terbesar

Mengenal Indonesia: Siswa Kelas IV SDN 27 Tatibajo, Majene Tahun 2011
Mengenal Indonesia: Siswa Kelas IV SDN 27 Tatibajo, Majene Tahun 2011

Setiap hal yang dilakukan dalam hidup adalah proses belajar yang panjang untuk mencari apa makna dan tujuan hidup kita. Perjalanan saya sebagai Pengajar Muda (PM) Indonesia Mengajar membantu saya mengkristalkan apa tujuan hidup saya, yaitu membantu sebanyak-banyaknya orang agar mereka mampu memperjuangkan kehidupan yang layak.

Saya mendapat kehormatan untuk menjadi guru selama setahun dan menjadi bagian dari masyarakat di sebuah desa kecil bernama Tatibajo. Saya adalah Pengajar Muda pertama di sana. Di Tatibajo, saya kembali diingatkan betapa beruntungnya saya karena bisa mendapatkan tiga hal termahal yang belum mereka miliki: pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan yang baik.

Tatibajo terletak di pegunungan yang berjarak 80 Km dari Ibukota Kabupaten Majene. Akses yang tersedia hanyalah jalan setapak berbukit sepanjang 8 Km dari desa pesisir terdekat, Salutambung. Tanpa akses listrik, telekomunikasi, sistem sanitasi, dan transportasi praktis membuat Tatibajo terisolir baik secara geografis maupun sosial-kultural. Hal itu membuat masyarakat merasa tidak berdaya dan rendah diri dibandingkan masyarakat desa pesisir.

Kondisi Tatibajo inilah yang menggerakkan saya untuk membantu masyarakat di sana untuk memperjuangkan kehidupan yang layak melalui pendidikan. Saya mendamping anak-anak, membangun ikatan kuat dengan masyarakat, dan menggandeng semua aktor lokal untuk turut berjuang agar masyarakat di desa-desa seperti Tatibajo dapat lebih berdaya.

Setelah setahun mengabdi, saya melihat banyak perubahan positif yang terjadi. Anak-anak telah mampu berbahasa Indonesia, membaca, dan lebih percaya diri. Masyarakat mulai mandiri dan memiliki motivasi untuk memperjuangkan pendidikan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.

Salah satu perubahan positif yang terjadi adalah meningkatnya kemampuan berbahasa. Awalnya hanya ada 5 anak dan sedikit warga Tatibajo yang bisa membaca dan berbahasa Indonesia. Kendala ini membuat anak-anak tidak mampu memahami materi pelajaran dan tidak percaya diri melanjutkan ke SMP yang kegiatan belajar-mengajarnya menggunakan Bahasa Indonesia.

Sebagai solusinya, saya membiasakan berbicara dengan anak-anak menggunakan Bahasa Indonesia. Awalnya mereka kesulitan hingga harus menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Namun, dengan menjadi pendengar yang baik dan mengapresiasi usaha mereka, saya berhasil memotivasi mereka untuk terus belajar.

Kemampuan membaca adalah aspek lain yang ingin saya tingkatkan. Saya mengajak pemuda-pemuda desa untuk mendirikan dan mengelola Taman Baca Tatibajo. Buku-buku di taman baca adalah pinjaman dari sekolah dan sumbangan dari teman-teman kuliah dan SMA saya. Mereka menggalang dana dan mengirimkan bukunya ke Tatibajo. Inisiatif penggalangan ini kemudian terduplikasi di desa Indonesia Mengajar lainnya dan melahirkan gerakan baru, Indonesia Menyala. Dengan beragamnya buku, kosa kata anak-anak semakin kaya dan pengetahuan mereka tentang dunia luar juga semakin luas.

Usaha membumikan Bahasa Indonesia dan memberantas buta huruf itu akhirnya terbayar. Murid-murid saya adalah generasi pertama anak-anak Tatibajo yang seluruhnya dapat berbahasa Indonesia dan bisa membaca. Mereka juga generasi pertama yang berani melanjutkan pendidikan SMA/SMK. Dua orang di antaranya bahkan berhasil diterima SMAN 1 dan SMKN 5, sekolah terbaik di ibukota Kab. Majene.

Saya sadar bahwa waktu saya di Majene terbatas. Karena itu sejak awal saya selalu melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama terlibat dalam kegiatan pendidikan dan peningkatan kualitas kesehatan di sana. Dengan demikian maka masyarakat akan tetap berdaya dan mandiri meskipun sudah tidak ada Pengajar Muda.

Setelah masyarakat melihat bahwa anak-anaknya mampu membaca dan berbahasa Indonesia, mereka kini lebih percaya diri dan percaya bahwa anaknya memiliki potensi yang patut diperjuangkan. Sebagai contoh, warga sepakat untuk berinisiatif membuka isolasi geografis Tatibajo. Dengan usaha patungan, mereka bergotong royong membangun jalan batu secara bertahap agar mempermudah akses anak-anak untuk melanjutkan sekolah keluar desa.

Perubahan sudut pandang masyarakat yang positif, membuat mereka lebih mudah dilibatkan. Bersama mereka, saya membuat gerakan “Ayo Sekolah Lagi” yang mengajak agar orang tua lain agar mendukung anaknya melanjutkan sekolah. Semakin hari semakin banyak warga yang ikut menjadi penggerak. Salah satu hasilnya, bulan Juli tahun ini saya mendapat kabar gembira dari Majene. Dua orang dari murid yang dulu pernah saya didik telah berhasil lolos SBMPTN dan diterima di Universitas Sulawesi Barat. Keduanya menjadi anak-anak gunung pertama dari Desa Tatibajo yang akan mengeyam bangku kuliah dan menjadi inspirasi bagi adik generasinya.

Saya sangat bersyukur bahwa kehadiran saya di desa Tatibajo dapat membawa perubahan dan memberi manfaat pada masyarakatnya. Secara personal, pengalaman ini juga telah mengajarkan saya pada tujuan hidup dan makna hidup yang ingin saya raih. Ini adalah kesuksesan terbesar dalam hidup di mana saya bisa membantu murid-murid untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik dan membantu masyarakat agar lebih berdaya untuk berjuang mendapatkan kehidupan yang layak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s