Mas Guru Punya Cerita: Kisah (Tidak) Sukses Saya

Mas Guru Punya Cerita: Kisah (Tidak) Sukses Saya

Kalau dari tulisan-tulisan Mas Guru Punya Cerita (MGPC) yang lalu, sepertinya kegiatan mengajar saya baik-baik saja, lancar, menyenangkan, dan terkendali. Pada kenyataannya … tidaklah demikian. Bagaimana ada kisah sukses kalau tidak ada kisah yang gagal bukan?! Berikut ini adalah daftar (sementara) kisah ‘gagal’ saya (dengan tanda kutip).

1. Perkalian di Pasar Burung
Ingat tulisan kedua MGPC? Hari pertama masuk kelas aku berencana mengajar perkalian. Dengan asumsi bahwa para murid akan malu-malu apalagi dengan guru baru, aku memulai kelas dengan metode diskusi. Hasilnya, tanpa ditunjuk, dengan bahasa campuran Indonesia – manok-manok, siswa bersahut-sahutan menjawab pertanyaan. Hampir semua jawaban salah. Tapi yang paling menjengkelkan adalah 2 jawaban ini: “Saya Pak, tidak tahu Pak.” dan “Saya Pak, sama dengan dia Pak.”.

2. Sprinter-sprinter Ulung
Di minggu kedua mengajar (tiba di Tatibajo hari Jumat, jadi minggu pertama tersisa hari Sabtu saja) ada seorang remaja kampung yang meninggal karena kecelakaan motor. Saat berita ini datang, jam pelajaran masih berlangsung. Anak-anak yang mendengarnya kontan teralih perhatiannya keluar, berdiri dari kursi, lantas berhamburan menuju pintu. Untungnya saat itu aku sedang berdiri di dekat pintu. Mereka akhirnya kembali duduk. Aku kembali ke papan untuk menuliskan jawaban seorang siswa yang sempat dia lontarkan sebelum insiden penghamburan tadi. Selang beberapa saat … BLASH…! 3 siswa melesat keluar. Berlari mendekati kerumunan warga. Apakah 3 siswa itu saudara dari si Almarhum? Tidak. Lalu mengapa mereka keluar? Karena mereka adalah sprinter-sprinter ulung.

3. Gaya yang Mati Gaya
Kelas III, Bab Gaya dan Gerak Benda. Susahnya mendefinisikan gaya. Maunya menjelaskan dengan contoh saja bahwa gaya (pegas) bisa menggerakkan benda. Aku ambil karet sebagai ganti ketapel. Kupilin kertas, kuselipkan kertas di karet, lalu kutarik dan tahan. “Apa yang terjadi kalau karetnya di lepas?”, tanyaku.

“Karet Pak! Ditarik Pak! Kertas Pak! Tangan Pak! Saya Pak, tidak tahu Pak”, jawab mereka bervariasi.

Dan kejadian semacam ini berlangsung berkali-kali, di hari itu, di kelas itu.

4. Lampu Mati dan Mati Gaya
TPA Tatibajo, di suatu maghrib. Pengajian baru di mulai tapi lampu petromax bocor. Jadinya terpaksa tidak membaca Quran hari ini. Kutawarkan mau belajar apa, anak-anak ramai minta cerita. Karena tidak punya stok, aku tanya pada mereka mau cerita apa. Mereka minta cerita perang gajah. Inilah yang aku ceritakan, “Abraha memimpin pasukan gajah menyerang Ka’bah. Orang-orang Quraisy lari menyelamatkan diri. Allah mengirim burung ababil yang membawa batu yang membara. Burung ababil mejatuhkan batu-batu panas itu. Tentara gajah kalang kabut karena gajahnya mati semua. Terus …, (mikir) … (ingat-ingat) …, tahun itu disebut Tahun Gajah. Selesai. Ayo kita belajar wudhu yuk (^_^!). ”.

5. Mana Pekerjaanmu
Suatu pagi di kelas Bunga Matahari III. “Yang sudah selesai mencatat, boleh istirahat.”, kataku.

Brullll…..! Bocah-bocah berlarian berebut mengumpulkan buku lalu mereka pergi keluar kelas. Sisa 3 orang. “Yang belum, saya tunggu. Teruskan saja.”, kataku.

3 menit, 1 siswa selesai. 5 menit, siswa kedua selesai. 7 menit, siswa ketiga garuk-garuk kepala. 10 menit, siswa ketiga tengok kanan-kiri. 20 menit, anak ini masih juga belum selesai. “Michael (bukan nama sebenarnya), saya ke kantor dulu ya. Nanti kalau sudah, kumpulkan di kantor. Saya di sana.”, kataku padanya dan dia pun menjawab iya.

Di kantor aku menunggu. 5 menit, 10 menit, 15 menit (ada rapat guru, jadi istirahatnya lebih panjang), 20 menit, 30 menit. Anak itu belum datang. 40 menit bel masuk dibunyikan. Aku ke kelas dan kutanya anak itu mana pekerjaannya. Dengan nyengir kucing dia menjawab, “Tidak ada Pak.:mrgreen: ”.

(_ _!) ….. (_ _)zZZ

Jangan pernah tinggalkan bocah ini sendirian.

6. Biarlah Tulisan Mereka yang Bicara

Nah, itu dia sekelumit kisah-kisah ‘gagal’ saya dalam mengajar di Tatibajo. Cuma itu? Masih buanyak….! Yang tinggal sedikit itu baterai laptop saya, hehe:mrgreen: .

Bersambung …. !
Nantikan episode-episode ‘Mas Guru Punya Cerita’ di blog yang sama.

|

Cerita ini juga ditulis di sini.

6 thoughts on “Mas Guru Punya Cerita: Kisah (Tidak) Sukses Saya

  1. “Tanpa dikorekpun, masyarakat Tatibajo akan bercerita dengan sendirinya mengenai kehidupan, budaya, bagaimana lapuknya pohon coklat mereka, ketertinggalan mereka akan pendidikan, hingga sulitnya mata pencaharian di sana. ”

    mas Agung.. kalimat ini seru untuk diceritakan lebih dalam.
    Insya Allah uda mo genep 3 bulan kan ya di Tatibajo,
    kalo ada waktu, minta tolong ceritain ttg masyarakat disana ya,
    siapa tau, pas diposting, temen2 disini bisa bantu ngasi ide terhadap potensi2 terpendam Tatibajo yang belum diberdayakan,
    termasuk peluang2 yang terlihat sederhana, tapi mampu mendongkrak perekonomian & kesejahteraan (pendidikan&kesehatan) masayarakat sana.
    Terimakasih.

    Oia, untuk semua postingan MGPC, alhamdulillah.. jadi ikut merasa memiliki mereka yang jauh disana, anak-anak Indonesia🙂

  2. Agung,

    salut dan luar biasa untuk pilihan dan dedikasi jadi guru di sana .. semoga selalu sukses dalam pengabdian di manapun berada …

    salam

    Riri Satria
    (CSUI – 1988)

  3. paling suka dg ekspresi ini : (_ _!) ….. (_ _)zZZ

    sabar pak, murid spt itu memang butuh ketelatenan yg tinggi..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s