Bukan Receh Biasa

“Dalam berbisnis, 1 rupiah pertama itu jauh lebih penting dari pada 1 milyar kedua.”, kata seorang lulusan FKG UI yang “gagal” jadi dokter*.

Kalimat tadi pernah saya baca di suatu majalah. Akan tetapi, di Grand Opening UI Young & Smart Entrepreneur 2009 kata-kata “1 rupiah pertama” dkk itu di-repost lagi oleh si Empunya sendiri.

Belajar dari praktisi memang enak. Singkat, jelas, teruji, serta kalimatnya seenak udel-nya dia. Dan memang benar, menjual 1 barang di awal usaha itu jauh lebih sulit dari pada melakukan penjualan-penjualan berikutnya.

Jika males ngomongin fisika/matematika, skip aja dua subjudul berikut ini

====================
Kata Newton dkk
Sebenarnya, ilmu fisika pun menerangkan prinsip ini. Hukum Newton I (hukum Allah yang dijabarkan oleh Newton) mengatakan bahwa benda diam akan cenderung diam dan benda bergerak akan cenderung bergerak.

newtonUntuk menggerakkan benda diam diperlukan gaya (F) di mana gaya (F) = massa(m)*percepatan(a). Mungkin, kalau dianalogikan dengan bisnis, massa itu seperti potensi bisnis dan percepatan itu adalah jerih payah kita dalam berbisnis.

Kata Ibnu Sina dkk (mungkin)
Dalam ilmu matematika di cabang ilmu kalkulus, konsep “1 rupiah pertama” dijabarkan melalui teori limit. Untuk mempertahankan omset dari 1 milyar/bulan, kita “cukup” melakukan penjualan sebesar jumlah penjualan bulan sebelumnya. Benar?

Tapi, untuk mengubah omset dari (limit) 0(nol) rupiah menjadi 1 rupiah, kita harus mengalikannya dengan limit tak hingga (1/0 = tak hingga). Artinya, usaha yang kita lakukan harus optimal (ikhlas, cerdas, keras). Hiperbolanya, kita bilang “dengan segala daya upaya”.
====================

Kata Anaknya Abdullah (SAW)
Rosulullah Muhammad SAW telah mendidik kita dengan berkata, “Barang siapa yang amalan hari ini lebih baik dari pada hari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang amalan hari ini sama dengan hari kemarin maka dia termasuk orang yang merugi. Barang siapa yang amalan hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia termasuk orang yang celaka.”**

Lebih sederhana, tapi mencakup hal yang lebih luas dan lebih dalam bukan? Ternyata, konsep “1 rupiah pertama” yang disampaikan Pak CT tersebut disarikan dari hadist ini. Ealah, muter jauh-jauh baliknya ke situ juga.πŸ˜€

So, keep fight my brother and sister. Raih receh pertamamu! Ayo jadi pedangang yang keren. Demi Indonesia, dunia, dan alam raya yang lebih baik!

======================================

*Chairul Tanjung, pemilik Trans Corp.
** Lagi-lagi, tolong, kalau bunyi hadist tersebut salah tolong dibenarkan.

9 thoughts on “Bukan Receh Biasa

  1. bener.. mulai bisnis dari awal itu emang susah.. ada quote lagi
    “pelanggan pertama bukan pelanggan biasa”πŸ˜€
    hehehe

  2. mantabz…
    ane sampe sekarang belum merasa bner2 beriwrausaha deh…

    Ane pengen ngerasain wirausaha yang bner2 “dagang”. bisnis yuk gung, dagang apa kek gitu. Pengen belajar banyak dari aktivitas wirausaha yg kek gitu nih…

    kali aja nt punya produk bagus dari sby yg bisa dijual di daerah sini…

    nt jadi supplier dari sana, ane jadi penjual disini

    how, how?

    • @Kamal
      Saya juga ngerasain hal yang sama Mal. Belum ngrasa bener2 berdagang. Mungkin karena belum merasakan resiko merugi yang cukup tinggi kali ya (untung rugi nya fifty-fifty gitu)?

      Kalau Surabaya dan Jakarta itu tipenya sama Mal. Barang2 yg diproduksi pun mirip. Kira2 enaknya dagang apa ya? Gimana Ris? Ada ide?

      @Haris
      Ente benar Ris. Klo udah nyemplung, konsistennya itu susah. Kata Pak Dhe saya, pengusaha muda itu punya ciri khas terburu2. Pingin untung cepet. Kepuasan pelanggan jadi ga dipedulikan.

  3. emang susah bgt memulai, tapi klo udah kecebur beda tantangan yaitu menjaga konsistensi…
    Kayak pernah wirausaha aja nih saya.. hehehe…πŸ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s