Kontribusiku bagi Indonesia

Menikmati Buku, Taman Baca Tatibajo. Majene
Menikmati Buku, Taman Baca Tatibajo. Majene

Tentang Saya

Saya terlahir dari keluarga PNS yang mendapatkan perlindungan kesehatan dari ASKES. Dengan terjaminnya kesehatan keluarga saya, orang tua saya memiliki kesempatan untuk memberikan pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi di sekolah yang berkualitas sehingga saya bisa lulus dari Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia.

Proses panjang pendidikan berkualitas mengantarkan saya Continue reading “Kontribusiku bagi Indonesia”

Advertisements

Sukses Terbesar

Mengenal Indonesia: Siswa Kelas IV SDN 27 Tatibajo, Majene Tahun 2011
Mengenal Indonesia: Siswa Kelas IV SDN 27 Tatibajo, Majene Tahun 2011

Setiap hal yang dilakukan dalam hidup adalah proses belajar yang panjang untuk mencari apa makna dan tujuan hidup kita. Perjalanan saya sebagai Pengajar Muda (PM) Indonesia Mengajar membantu saya mengkristalkan apa tujuan hidup saya, yaitu membantu sebanyak-banyaknya orang agar mereka mampu memperjuangkan kehidupan yang layak.

Saya mendapat kehormatan untuk menjadi guru selama setahun dan menjadi bagian dari masyarakat di sebuah desa kecil bernama Tatibajo. Continue reading “Sukses Terbesar”

Rencana Studi 2.0

Big Ben In The Morning
pict credit: Palms

Salah satu faktor kunci kesejahteraan sosial adalah terjaminnya kesehatan publik. Kini kita memiliki program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan dengan anggota mencapai 70% dari penduduk Indonesia. Tetapi capaian tersebut belum cukup membuat Indonesia berhasil menerapkan Jaminan Kesehatan Semesta.

Ada tiga fokus masalah yang Continue reading “Rencana Studi 2.0”

Bukan Sastrawan, cuma penggemar Fisika

MGPC - Pesona Alam Tatibajo (12)

Dalam senyapnya malam
Detik jam dinding semakin kencang
Seperti layaknya sebuah pelita
Yang hanya ada 1 di setiap rumah

Bila pagi tiba
Nyala pelita tak lagi jadi penting
Padahal bila senja datang
Hanya bulan yang mampu kalahkan sinarnya

Bertahun lalu, nenek sempatkan cerita
Betapa cantiknya purnama
Padang Bulan, katanya

Tapi itu hanya cerita
Seumur hidupnya, nenek tak pernah berhasil
membuktikan indahnya Padang Bulan padaku
Di Kota Surabaya
Purnama dan sabit hanya dibedakan oleh bentuk

 

Tapi kini aku tahu
Di tengah kuatnya dorongan di pintu air
Dan gemericik yang menerjang kaki
Terkadang dengan lolongan monyet
Dengkuran babi hutan
Dan gonggongan anjing di malam hari yang sedang berebut wilayah
Tuhan menunjukkan
Bulan Purnama memang benar indahnya

Sinarnya membantuku bebas melompat dari batu ke batu
Mencari tempat beradu
Untuk segera melepas beban
Tanpa takut terjatuh

Malam itu aku bisa ke sungai tanpa senter


#Bukan sastrawan, cuma penggemar Fisika yang lagi ngomongin polusi cahaya
#JUDUL: Tatibajo, Kebelet di Malam Hari

Mereka yang Mungkin Batal Jadi Sarjana

Kep. Sangihe, Sulawesi Utara - Kredit: Melati Nur Utami

Dulu, waktu kuliah, saya termasuk seorang scholarship hunter. Ga dapat beasiswa, ga kuliah. Tapi, saya sangat bersyukur punya banyak teman yang membantu, mulai dari teman seangkatan, senior, hingga dosen. Endingnya kamu pasti tahu lah. Saya seorang sarjana komputer sekarang. Kalau kata teman saya, Fatia, “Ga punya duit masih bisa kuliah. Cari beasiswa itu lebih gampang kalau kita sudah jadi mahasiswa. Jadi yang harus dilakukan adalah bekerja keras agar ketrima di kampus yang diharapkan.”

Seperti kata Fatia, saya pun bekerja keras agar bisa diterima di kampus tujuan saya, UI.

Jadi mahasiswa UI merupakan cita-cita jangka pendek saya waktu itu. Jalan menuju kesana tidak mudah. Saya harus beradu nilai SPMB (sekarang jadi SNMPTN Jalur Ujian Tulis) dengan ribuan anak-anak lain yang bermimpi masuk UI. Kami  beradu otak dalam seleksi. Siapa yang paling pintar, dialah yang berhak masuk UI.

Sepertinya, sistem adu pintar juga berlaku buat teman-teman lain yang bercita-cita masuk ITB, UGM, Unpad, ITS, Unair, Unhas, Unsri, dan kampus-kampus lainnya. Ya, itu yang saya pikir. Kalau Inggriskan jadi ‘that was what I thought‘. Mengapa ‘thought‘? Because what I think is different now. Continue reading “Mereka yang Mungkin Batal Jadi Sarjana”