Bukan Sastrawan, cuma penggemar Fisika
Dalam senyapnya malam
Detik jam dinding semakin kencang
Seperti layaknya sebuah pelita
Yang hanya ada 1 di setiap rumah
Bila pagi tiba
Nyala pelita tak lagi jadi penting
Padahal bila senja datang
Hanya bulan yang mampu kalahkan sinarnya
Bertahun lalu, nenek sempatkan cerita
Betapa cantiknya purnama
Padang Bulan, katanya
Tapi itu hanya cerita
Seumur hidupnya, nenek tak pernah berhasil
membuktikan indahnya Padang Bulan padaku
Di Kota Surabaya
Purnama dan sabit hanya dibedakan oleh bentuk
Tapi kini aku tahu
Di tengah kuatnya dorongan di pintu air
Dan gemericik yang menerjang kaki
Terkadang dengan lolongan monyet
Dengkuran babi hutan
Dan gonggongan anjing di malam hari yang sedang berebut wilayah
Tuhan menunjukkan
Bulan Purnama memang benar indahnya
Sinarnya membantuku bebas melompat dari batu ke batu
Mencari tempat beradu
Untuk segera melepas beban
Tanpa takut terjatuh
Malam itu aku bisa ke sungai tanpa senter
—
#Bukan sastrawan, cuma penggemar Fisika yang lagi ngomongin polusi cahaya
#JUDUL: Tatibajo, Kebelet di Malam Hari




Harbun said,
7 March 2012 at 12:24
Haha
Luar biasa,.. menarik,..
Harusnya kata “kebelet” itu ditaruh di belakang aja, biar pada penasaran, ini puisi macam arahnya kemana gitu,.. hehe
agungfirmansyah said,
7 March 2012 at 13:52
Bener juga Mas. Saya ganti sekarang. Terimakasih
.
dokter anak said,
9 March 2012 at 08:41
nice poem…
rumahbukuiqro said,
19 March 2012 at 17:44
i like poem very much!
redesya said,
22 March 2012 at 21:55
heheh… ujung-ujungna kebelet
tapi indah juga…..
btw apa kabar kak?
Jefry said,
23 April 2012 at 06:45
lucu juga mas,, kira2 dapat idenya dari mana ni hehe..