Mas Guru Punya Cerita: Trial Version di TPA Tatibajo
Sebelum lebaran, sahabat SMA saya mengirim meja ngaji untuk anak-anak TPA Tatibajo. Meja itu adalah hasil penggalangan dana. Saya mau cerita sebuah rahasia, tapi jangan bilang siapa-siapa ya.
Di proposal penggalangan dana itu TPA di kampung kami saya memberi nama TPA Barisan Penerbang
. Dapat dari mana tu nama? Namanya boleh nyontek
dari salah seorang PM lain yang menyebut murid-muridnya Barisan Penerbang (mungkin terinspirasi dari Laskar Pelangi). Nama asli TPA-nya? TPA Tatibajo, so ordinary
.
Okey, kembali ke meja mengaji.
Jumlah mejanya 20 biji. Anak yang mengaji totalnya 30 lebih. Bahaya. Meja-meja ini, kalau tidak ditangani dengan baik bisa berpotensi menyebabkan perang sipil di antara anak-anak peserta ngaji.
“Aka inde’e???? Kodi’ mendiolu
! [Apa(-apaan) ini???? Saya (yang) duluan
!]”.
Demi menghindari perang, meja ngajipun masuk gudang. Sampai saya kembali dari Surabaya, mejanya masih di gudang.
Singkat cerita, ide untuk menghindari perang sipil gara-gara meja ngaji muncul. Ide ini terbesit ketika saya sedang ‘berbuat ikhlas’
.
…
Kala maghrib, saya hitung berapa anak yang datang mengaji hari itu. Kalau yang datang lebih dari 20, meja ngaji tidak jadi dibawa karena jumlah mejanya cuma 20
.
Saat menemukan hari yang pas, eja ngaji dibawa ke masjid. Setelah sholat dan doa, anak-anak diberi intro dulu mengenai meja ngaji. Intronya berisi doktrin-doktrin favorit saya
, mulai dari adanya orang-orang di luar sana yang tidak kenal dengan mereka tapi mereka rela membagi rezekinya agar anak-anak Tatibajo bisa belajar sampai bahwa meja-meja imut ini adalah milik mereka bersama, makanya harus mereka jaga bersama-sama.
Intro selesai, do’a dimulai. Selesai berdoa langsung meja ngaji dibagi-bagi. Anak-anak mulai ribut, berebut meja yang sejak tadi mereka incar. Kegaduhan khas bocah seperti ini memang sudah sunnatullah. Karena itu, santai saja.
Setelah suasana tenang, kami memulai hafalan surat dan doa-doa pendek. Setelah itu jala mulai dilempar
. G = guru, M = murid.
G: “Mejanya bagus ga?”.
M: “Bagus Paaaaak … !”.
G: “Enak dipakai mejanya?”.
M: “Enaaaak … !”.
G: “Kenapa enak?
”.
M1: “Enggg…. Belakang (pungung) tidak sakit.”.
M2: “(mejanya) Bagus dilihat, Pak.”.
M3: “Bisa dipakai karate, Pak. (muka polos)”.
G: “Gubraaaak … #$%^&*$%^&* !”.
G: “Nah, siapa-siapa yang besok hafal wailul li (QS Al Humazah), bisa pakai mejanya buat belajar
.”
M: “Kalau yang belum hafal, Pak?”.
G: “Belajar, supaya hafal. Nanti dapat hadiah boleh pakai meja.
”.
Ya, malam itu adalah malam trial. Meja mengajinya masih dalam trial version. Setiap anak yang datang mencicipi nikmatnya mengaji menggunakan meja
. Setiap anak yang tidak datang malam itu mendapatkan cerita yang menggiurkan dari pengajian semalam. Semua anak ngiler. Ngidam meja ngaji.
Subhanallah.
Sejak malam itu anak-anak berlomba menghafal surat Al Humazah. Pagi main kelereng sambil hafalan. Hum (gambreng) sebelum main bola sambil tanya-tanya tentang hafalan. Mandi setengah telanjang di sungai juga tak luput dari hafalan. Malam harinya, balapan angkat tangan untuk ngetes hafalan.
“Gratis, coba-coba berhadiah. Silakan coba hafalan wailul li, siapa tahu dapat hadiah meja.”, begitu iklan resmi dari gurunya.
Hari pertama tes hafalan, hanya 4 biji meja ngaji yang berhasil disebar. 16 lainnya tersimpan di mimbar, membuat peserta ngaji (yang belum hafal) clingak-clinguk, ngiler ingin memakainya.
Hari kedua mengaji, hari ketiga, dan seterusnya semakin sedikit meja yang tersimpan di mimbar. Alhamdulillah, sampai anak-anak yang belum sekolah pun ikutan menghafal. Dia ingin memakai meja ngaji hasil jerih payahnya sendiri, bukan pinjaman dari kakaknya.
Sebulan lebih berlalu. Tes hafalan belum berhenti, hingga malam tadi. Semalam, seluruh anggota TPA Tatibajo sudah hafal surat Al Humazah. Artinya 30-an orang berhak atas meja mengaji. Apa daya, hanya tersedia 20 meja. Sebagian anak-anak pemberani mengalah tidak dapat meja. Biar yang kecil dulu, begitu katanya kalau ditanya. Kagum saya rasanya dengan jawaban itu. Ini murid-murid saya, senyumku dalam hati.
Alhamdulillah, walau meja kurang, perang sipil tidak terjadi, tapi kemungkinan pecah masih ada. Untuk menghindarinya, segera saya kirim email ke sahabat saya itu, “Da, aku iso pesen mejo ngaji maneh?”.
Bersambung …. !
Nantikan episode-episode ‘Mas Guru Punya Cerita’ di blog yang sama.




nurdian said,
22 October 2011 at 14:58
Subhanallah…
trus smangat pak
agungfirmansyah said,
23 October 2011 at 13:36
Terimakasih
.
Meralda Nindyasti said,
22 October 2011 at 16:01
“Mereka itu benar-benar istimewa,
dan aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan..
Tetapi, aktivitas mereka yang penuh ketaatan pada Allah itu,
membuat penglihatanku berujung pada senyum penuh kesyukuran..
Dan begitulah jiwa mereka, masih suci..”
(Malang, 19 Oktober 2011)
ya Allah, ga nyangka mas kalo ternyata ada kisah sekeren ini di balik meja ngaji. Ijin shet ke mb Tika ya ttg cerita meja ngaji di blog ini
agungfirmansyah said,
23 October 2011 at 13:37
Monggo di fwd. Btw, sing 19 Oktober iku sopo sing ngomong?
Meralda Nindyasti said,
25 October 2011 at 20:34
aku, ketika liat imel isinya 4 foto mereka.
Harbun Gandi Subekti said,
22 October 2011 at 16:10
Subahanallaah,..
ternyata banyak semangat di luar sana,…
saya benar-benar bersemangat membaca cerita ini,…
btw, memang ketika kita “berbuat ikhlas”, banyak sekali ide-ide luar biasa muncul,.
Semangat selalu!!!
agungfirmansyah said,
23 October 2011 at 13:47
Betul Mas. Selain berasa ‘ikhlas’, saya jg bersemangat saat ‘berbuat ikhlas’
.
Adlil umarat said,
22 October 2011 at 18:33
Pak guru, saya mau sumbang mejanya. Kemana kirim uangnya?kasi tau japri ya ke email.
agungfirmansyah said,
23 October 2011 at 13:36
Udah dibales via email Mas. Emailku yg ada haidar-nya.
Terimakasih.
vhynaulia said,
22 October 2011 at 21:53
=)) ketawa nguakak =))
tapi juga terharu pas yang gede mau ngalah…
*eh link ku udah balik* ngakak lagi deh… =))
nonny atika said,
23 October 2011 at 01:53
subhanallah………….
Gyl said,
23 October 2011 at 03:13
I didn’t thought those very small fold-able table will be as important part of an interesting story. Great job
Abed Saragih said,
24 October 2011 at 23:58
kunjungan dan komentar balik ya gan
salam perkenalan dari
http://diketik.wordpress.com
sekalian tukaran link ya…
semoga semuanya sahabat blogger semakin eksis dan berjaya.
Aya Salsabila said,
25 October 2011 at 09:09
Alahamdulillah..
Terharu…
Ikut senang bacanya ..
Arinal Haq said,
5 November 2011 at 16:20
ikut terharu pak… alhamdulillah…
onesetia82 said,
13 November 2011 at 19:06
berkunjung sob . . .
salam persaudaraan dan sukses buat agan . . .
rahmat said,
21 November 2011 at 03:58
semoga tetap istiqomah disana,…
Adam Thornton z said,
5 January 2012 at 14:06
Kita harus terus berfikir terbuka, jangan berhenti belajar, sambil belajar siapa tahu menemukan bakat dan minat baru yang sudah siap untuk bersemi.