Mas Guru Punya Cerita: Beranak dan Melahirkan
Mas Guru Punya Cerita: Beranak dan Melahirkan
Seri Konstruktivisme
Lagi-lagi, aku mengajar kelas gabungan. Kali ini The Little Monsters yang beruntung itu
adalah kelas 3 dan 4. Kata para guru, ‘batas aman’ berbahasa Indonesia adalah kelas 4. Lalu, bagaimana aku akan mengajar kelas 3? Haha, biarlah. Hitung-hitung kan aku juga punya misi untuk menyebarkan virus ‘Lancar Berbahasa Indonesia’ di Tatibajo
.
Saat masuk, kulihat sudah ada tabel perbedaan makhluk hidup dan benda mati. Tabel itu masih baru, belum terisi sama sekali. Sepertinya kemarin tabelnya belum sempat digunakan. Pas sekali, pakai saja! Aku memang kesulitan membuat RPP. Hingga kini, aku belum tahu akan mengajar kelas berapa saja besok. Maklum, tidak ada yang tahu siapa (guru) yang tidak datang esok hari.
Seingatku ada beberapa kolom di tabel itu: ‘Nama’, ‘Tumbuh’, ‘Berkembang Biak’, ‘Bergerak’, ‘Menanggapi Rangsang’, ‘Bernafas’, ‘Menghasilkan Makanan Sendiri’, ‘Makhluk Hidup’, dan ‘Benda Mati’. Mari kita mulai proses belajar dengan metode konstruktivisme
. Dalam metode konstruktivisme – versi saya :p – peran guru adalah Read the rest of this entry »
Mas Guru Punya Cerita: Keracunan Keong Racun
Mas Guru Punya Cerita: Keracunan Keong Racun
Walau kampungnya kecil, aku sulit memetakan orang-orang Tatibajo. Aku belum bisa menghafal sepenuhnya si Aidin anaknya siapa – rumahnya di mana, Bapak ini namanya siapa – yang mana anaknya, rumahnya di mana. Warga Tatibajo umumnya masih keluarga dekat, jadi wajahnya pun mirip-mirip. Di tambah lagi kurangnya penerangan saat malam membuat aku makin susah mengingat dengan siapa aku mengobrol tadi malam. Pernah suatu kali aku bertanya pada dua orang muridku apakah mereka berdua bersaudara. Ternyata mereka bukan adik-kakak tapi sepupu, padahal wajahnya sangat mirip. Saat aku melihat ayah mereka masing-masing, hmm… pantes dua muridku itu mirip. Lha wong bapaknya juga mirip
.
Asik-asiknya ngobrol dengan beberapa warga di ruang tamu, kudengar sayup suara anak-anak perempuan bernyanyi. Aku keluar rumah. Kuintip mereka dari balik pintu. Read the rest of this entry »
Mas Guru Punya Cerita: The Little Monsters
Mas Guru Punya Cerita: The Little Monsters
SDN No. 27 Inpres Tatibajo bukanlah sekolah yang sempurna. Dibandingkan dengan SD-ku 11 tahun lalu, sekolah ini pun masih tertinggal. Bangunan kelas dikelilingi dinding kayu bercat putih di bawah naungan atap seng yang memancing keringat. Biasanya, siswa yang hadir di sekolah tidak sampai belasan untuk setiap kelasnya. Bila ditambah dengan kurangnya guru yang berhasil hadir di sekolah, maka wajar siswa kelas 5 belajar seruangan dengan siswa kelas 6, begitu juga dengan siswa-siswa kelas lainnya. Gurunya pun menyampaikan materi pelajaran yang terpaksa disesuaikan agar kedua kelompok siswa yang digabung tetap bisa mengikuti pelajaran.
Hari pertama memegang kelas, aku langsung mengajar gabungan kelas 5 dan 6. Berdasarkan pengalaman pelatihan mengajar di salah satu MI di Ciawi, aku membuat dugaan awal bahwa siswa kelas 5 masih kesulitan mengerjakan soal perkalian. Karena itu, kali ini aku berencana mengajar perkalian. Pertama, kan kuajarkan dasar perkalian. Perkalian dibagi menjadi 6 bagian: perkalian dengan angka 1, 10, 100, dst; perkalian angka 2, 3, dan 4; perkalian angka 5; perkalian angka 11; perkalian angka 9; dan perkalian angka 6, 7, 8, dan 9.
Perkalian Itu Susah
“Perkalian itu susah!”, begitu aku membuka pelajaran. Read the rest of this entry »


